Di pasar Sayyeda Zainab aku pernah melihat seorang penjual ikan marah-marah pada isterinya. Entah karena apa. Ia menghujani isterinya dengan sumpah serapah yang sangat kasar dan tidak nyaman di dengar telinga. Di antara kata-kata kasar yang kudengar adalah: Ya bintal haram, ya syarmuthah, ya bintal khinzir...! Bulu romaku sampai berdiri. Ngeri mendengarnya. Sang isteri juga tak mau kalah. Ia membalas dengan caci maki dan serapah yang tak kalah keras dan kotornya. Dan sumpah serapah yang mengandung laknat adalah termasuk paling kasar.
Telingaku paling tidak suka mendengar caci mencaci, apalagi umpatan melaknat. Tak ada yang berhak melaknat manusia kecuali Tuhan. Manusia jelas-jelas telah dimuliakan oleh Tuhan. Tanpa membedakan siapa pun dia. Semua manusia telah dimuliakan Tuhan sebagaimana tertera dalam Al-Qur’an, Wa laqad karramna banii Adam. Dan telah Kami muliakan anak keturunan Adam! Jika Tuhan telah memuliakan manusia, kenapa masih ada manusia yang mencaci dan melaknat sesama manusia? Apakah ia merasa lebih tinggi martabatnya daripada Tuhan?
Tindakan Ashraf melaknat tiga turis Amerika itu sangat aku sesalkan. Tindakannya jauh dari etika Al-Qur’an, padahal dia tiap hari membaca Al-Qur’an. Ia telah menamatkan qiraah riwayat Imam Hafsh. Namun ia berhenti pada cara membacanya saja, tidak sampai pada penghayatan ruh kandungannya. Semoga Allah memberikan petunjuk di hatinya.
Yang aku herankan, dalam kondisi panas seperti ini, kenapa bule-bule itu ada di dalam metro. Seandainya mau bepergian kenapa tidak memakai limousin atau taksi yang ber-AC. Dalam hati aku merasa kasihan pada mereka. Mereka seperti tersiksa. Basah oleh keringat. Wajah dan kulit mereka kemerahan. Yang paling kasihan adalah yang nenek-nenek. Beberapa kali ia menenggak air mineral. Mukanya tetap saja pucat. Mereka tidak biasa kepanasan seperti ini. Aku jadi teringat Majidov, teman dari Rusia. Ia sangat tidak tahan dengan panasnya Mesir. Ia tinggal di Madinatul Bu’uts, atau biasa disebut Bu’uts saja. Yaitu asrama mahasiswa Al Azhar dari seluruh penjuru dunia. Di Bu’uts tidak ada AC-nya. Jika musim panas tiba dia akan hengkang dari Bu’uts dan menyewa flat bersama beberapa temannya di kawasan Rab’ah El-Adawea. Mencari yang ada AC-nya.
Tapi tidak semua mahasiswa dari Rusia seperti Majidov. Banyak juga yang tahan dengan musim panas.
Tak ada yang bergerak mempersilakan nenek bule itu untuk duduk. Ini yang aku sesalkan. Beberapa lelaki muda atau setengah baya yang masih kuat tetap saja tidak mau berdiri dari tempat duduk mereka. Biasanya, begitu melihat orang tua, apalagi nenek-nenek, beberapa orang langsung berdiri menyilakan duduk. Tapi kali ini tidak. Lelaki bule itu mengajak bicara seorang pemuda Mesir berbaju kotak-kotak lengan pendek yang duduk di dekatnya. Sekilas di antara deru metro kutangkap maksud perkataan si bule. Ia minta kepada pemuda Mesir itu memberi kesempatan pada ibunya yang sudah tua untuk duduk. Mereka bertiga akan turun di Tahrir. Tapi pemuda Mesir itu sama sekali tidak menanggapinya. Entah kenapa. Apa karena dia tidak paham bahasa Inggris, atau karena ketidaksukaannya pada orang Amerika? Aku tidak tahu.
Nenek bule itu kelihatannya tidak kuat lagi berdiri. Ia hendak duduk menggelosor di lantai. Belum sampai nenek bule itu benar-benar menggelosor, tiba-tiba perempuan bercadar yang tadi kupersilakan duduk itu berteriak mencegah,
“Mom, wait! Please, sit down here!”
Perempuan bercadar biru muda itu bangkit dari duduknya. Sang nenek dituntun dua anaknya beranjak ke tempat duduk. Setelah si nenek duduk, perempuan bule muda berdiri di samping perempuan bercadar. Aku melihat pemandangan yang sangat kontras. Sama-sama perempuan. Yang satu auratnya tertutup rapat. Tak ada bagian dari tubuhnnya yang membuat jantung lelaki berdesir. Yang satunya memakai pakaian sangat ketat, semua lekak-lekuk tubuhnya kelihatan, ditambah basah keringatnya bule itu nyaris seperti telanjang.
“Thank you. It’s very kind of you!” Perempuan bule muda mengungkapkan rasa terima kasih pada perempuan bercadar.
“You’re welcome,” lirih perempuan bercadar. Bahasa Inggrisnya bagus. Sama sekali tak kuduga. Keduanya lalu berkenalan dan berbincang-bincang. Perempuan bercadar minta maaf atas perlakuan saudara seiman yang mungkin kurang ramah. Ternyata lebih dari yang kunilai. Perempuan bercadar itu benar-benar berbicara sefasih orang Inggris.

Sesekali aku menyapukan pandangan melihat keadaan sekeliling. Juga ke luar jendela agar tahu metro sudah melaju sampai di mana. Sekilas ujung mataku menangkap perempuan bercadar biru mengeluarkan mushaf dari tasnya, dan membacanya dengan tanpa suara. Atau mungkin dengan suara tapi sangat lirih sehingga aku tidak mendengarnya. Orang-orang membaca Al-Qur’an di metro, di bis, di stasiun dan di terminal adalah pemandangan yang tidak aneh di Cairo. Apalagi jika bulan puasa tiba.
Metro sampai di Maadi, kawasan elite di Cairo setelah Heliopolis, Dokki, El-Zamalek dan Mohandesen. Sebagian orang malah mengatakan Maadi adalah kawasan paling elite. Lebih elite dari Heliopolis. Tidak terlalu penting membandingkan satu sama lain. Nama-nama itu semuanya nama kawasan elite. Masing-masing punya kelebihan. Dokki terkenal sebagai tempatnya para diplomat tinggal. Mohandesen tempatnya para pengusaha dan selebritis. Sedangkan Maadi mungkin adalah kawasan yang paling teratur tata kotanya. Dirancang oleh kolonial Inggris. Jalan-jalannya lebar. Setiap rumah ada tamannya. Dan dekat sungai Nil. Tinggal di Maadi memiliki prestise sangat tinggi. Prestise-nya seumpama tinggal di Paris dibandingkan dengan tinggal di kota-kota besar lainnya di Eropa. Itu keterangan yang aku dapat dari Tuan Boutros, ayahnya Maria yang bekerja di sebuah bank swasta di Maadi. Masalah prestise memang sangat subjektif. Orang yang tinggal di kawasan agak kumuh Sayyeda Zaenab merasa lebih prestise dibandingkan dengan tinggal di kawasan lain di Cairo. Alasan mereka karena dekat dengan makam Sayyeda Zaenab, cucu Baginda Nabi Saw. Demikian juga yang tinggal di dekat masjid Amru bin Ash. Mereka merasa lebih beruntung dan selalu bangga bisa tinggal di dekat masjid pertama yang didirikan di benua Afrika itu.
Begitu pintu metro terbuka, beberapa penumpang turun. Lalu beberapa orang naik-masuk. Mataku menangkap ada tiga orang bule masuk. Yang seorang nenek-nenek. Ia memakai kaos dan celana pendek sampai lutut. Wajahnya tampak pucat. Mungkin karena kepanasan. Ia diiringi seorang pemuda dan seorang perempuan muda. Mungkin anaknya atau cucunya. Keduanya memakai ransel. Pemuda bule itu memakai topi berbendera Amerika dan berkaca mata hitam. Ia juga hanya berkaos sport putih dan celana pendek sampai lutut.Yang perempuan memakai kaos ketat tanpa lengan, you can see. Dan bercelana pendek ketat. Semua bagian tubuhnya menonjol. Lekak-lekuknya jelas. Bagian pusarnya kelihatan. Ia seperti tidak berpakaian. Mereka berdua mengitarkan pandangan. Mencari tempat duduk. Sayang, tak ada yang kosong. Beberapa orang justru berdiri termasuk diriku.
Aku tersenyum pada Ashraf sambil berkata,
“Ashraf kau mau titip pesan pada Presiden Amerika nggak?”
“Apa maksudmu?”
“Itu, mumpung ada orang Amerika. Minggu depan mereka mungkin sudah kembali ke Amerika. Kau bisa titip pesan pada mereka agar presiden mereka tidak bertindak bodoh seperti yang kau katakan tadi.”
Ashraf menoleh ke kanan dan memandang tiga bule itu dengan raut tidak senang. Tiba-tiba ia berteriak,
“Ya Amrikaniyyun, la’natullah ‘alaikum!”
Kontan para penumpang yang mendengar perkataan Ashraf itu melongok ke arah tiga bule yang baru masuk itu. Gerakan persis anak-anak ayam yang kaget atas kedatangan musang di kandangnya. Kusisir wajah orang-orang Mesir. Raut-raut kurang simpati dan tidak senang. Apalagi pakaian perempuan muda Amerika itu bisa dikatakan tidak sopan. Orang-orang Mesir memang menganggap Amerika sebagai biang kerusakan di Timur Tengah. Orang-orang Mesir sangat marah pada Amerika yang mencoba mengadu domba umat Islam dengan umat Kristen Koptik. Amerika pernah menuduh pemerintah Mesir dan kaum muslimin berlaku semena-mena pada umat Koptik. Tentu saja tuduhan itu membuat gerah seluruh penduduk Mesir. Bapa Shnouda, pemimpin tertinggi dan kharismatik umat Kristen Koptik serta merta memberikan keterangan pers bahwa tuduhan Amerika dusta belaka. Sebuah tuduhan yang bertujuan hendak menghancurkan sendi-sendi persaudaraan umat Islam dan umat Koptik yang telah kuat mengakar berabad-abad lamanya di bumi Kinanah.
Untung ketiga orang Amerika itu tidak bisa bahasa Arab. Mereka kelihatannya tidak terpengaruh sama sekali dengan kata-kata yang diucapkan Ashraf. Memang, kalau sedang jengkel orang Mesir bisa mengatakan apa saja.

Ia sangat senang ketika tahu bahwa aku mahasiswa pascasarjana Al Azhar. Lebih kaget ketika ia tahu aku hendak ke Shubra untuk talaqqi pada Syaikh Utsman.
Ia berkata,
“Di Helwan saya belajar qiraah riwayat Imam Hafsh pada Syaikh Hasan yang tak lain adalah murid Syaikh Utsman. Berkali-kali Syaikh Hasan memintaku untuk ikut belajar qiraah sab’ah langsung pada Syaikh Utsman, tapi aku tak ada waktu. Aku sudah terlalu sibuk dengan pekerjaan dan keluarga. Jadi, kau termasuk orang yang beruntung, orang Indonesia.”
Metro terus berjalan. Tak terasa sudah sampai daerah Thakanat Maadi.
“Akh Ashraf, kamu mau turun di mana?” tanyaku ketika metro perlahan berhenti dan beberapa orang bersiap turun.
“Sayyeda Zaenab. Insya Allah.”
Pintu metro terbuka. Beberapa orang turun. Dua kursi kosong. Kalau mau, aku bisa mengajak Ashraf mendudukinya. Namun ada seorang bapak setengah baya masih berdiri. Dia memandang ke luar jendela, tidak melihat ada dua bangku kosong. Kupersilakan dia duduk. Dia mengucapkan terima kasih. Kursi masih kosong satu. Sangat dekat denganku. Kupersilakan Ashraf duduk. Dia tidak mau, malah memaksaku duduk. Tiba-tiba mataku menangkap seorang perempuan berabaya biru tua, dengan jilbab dan cadar biru muda naik dari pintu yang satu, bukan dari pintu dekat yang ada di dekatku. Kuurungkan niat untuk duduk. Masih ada yang lebih berhak. Perempuan bercadar itu kupanggil dengan lambaian tangan. Ia paham maksudku. Ia mendekat dan duduk dengan mengucapkan, “Syukran!”
Metro atau kereta listrik terus melaju.
Ashraf kembali mengajakku berbincang. Kali ini tentang Amerika. Ia geram sekali pada Amerika. Seribu alasan ia beberkan. Kata-katanya menggebu seperti Presiden Gamal Abdul Naser berorasi memberi semangat dunia Arab dalam perang 1967.
“Ayatollah Khomeini benar, Amerika itu setan! Setan harus dienyahkan!” katanya berapi-api. Orang Mesir memang suka bicara. Kalau sudah bicara ia merasa paling benar sendiri. Aku diam saja. Kubiarkan Ashraf berbicara sepuas-puasnya. Hanya sesekali, pada saat yang tepat aku menyela.

“Masyi ya Andonesy,” jawab penjaga loket sambil mengulurkan karcis kecil warna kuning kepadaku. Ia mengambil uang satu pound yang kuberikan dan memberi kembalian 20 piesters. Di pintu masuk karcis aku masukkan untuk membuka pintu penghalang. Setelah melewati pintu penghalang karcis itu kuambil lagi. Sebab tanpa karcis itu saya tidak akan bisa keluar di Shubra nanti. Dan jika ada pemeriksaan di dalam metro karcis itu harus aku tunjukkan. Jika tidak bisa menunjukkan, akan kena denda. Biasanya sepuluh pound. Itu pun setelah dimaki-maki oleh petugas pemeriksa.
Bagi penduduk Mesir, khususnya Cairo, metro bisa dikatakan transportasi kebanggaan. Lumayan canggih. Mahattah bawah tanah yang ada di Attaba, Tahrir dan Ramsis kelihatan modern dan canggih. Itu wajar. Sebab arsiteknya, semuanya orang Perancis. Orang-orang Mesir sering menyombongkan diri begini,
‘Kalau Anda berada di mahattah metro Tahrir atau Ramsis itu sama saja Anda berada di salah satu mahattah metro kota Paris.’
Benarkah?
Aku tidak tahu, sebab aku tidak pernah pergi ke Paris. Tapi aku pernah membaca sebuah majalah, memang ada stasiun bawah tanah di kota Paris yang dibuat bernuansa Mesir kuno. Dinding-dindingnya diukir dengan Hieroglyph, huruf-huruf Mesir kuno. Beberapa sisinya dihiasi dengan patung-patung dan simbol-simbol Mesir kuno, seperti tugu Alexandria, kunci pyramid yang sekilas tampak seperti salib, patung Tutankhmoun, Tutmosis, Ramses III, Amenophis III, Cleopatra dan lain sebagainya. Nuansa seperti itu sangat kental di mahattah metro Anwar Sadat-Tahrir, yang berada tepat di jantung kota Cairo.
Sebuah metro biru kusam datang. Pintu-pintunya terbuka perlahan. Beberapa orang turun. Setelah itu, barulah para penumpang yang menunggu naik. Aku masuk gerbong nomor lima. Aku yakin sekali akan dapat tempat duduk. Dalam cuaca panas seperti ini pasti penumpang sepi. Begitu sampai di dalam, aku langsung mengedarkan pandangan mencari tempat duduk. Sayang, semua tempat duduk telah terisi. Bahkan ada lima penumpang yang berdiri. Sungguh mengherankan, bagaimana mungkin ini terjadi? Di hari-hari biasa yang tidak panas saja seringkali ada tempat duduk kosong.
Aku mengerutkan kening.
Dapat tempat duduk adalah juga rizki. Jika tidak dapat tempat duduk berarti belum rizkinya. Aku menggeser diri ke dekat pintu di mana ada kipas angin berputar-putar di atasnya. Namun kipas itu nyaris tak berguna. Udara panas yang diputar tetap saja panas. Metro melaju kencang. Udara yang masuk dari jendela juga panas. Padang pasir seperti mendidih. Semua penumpang basah oleh air peluh.
Seorang pemuda berjenggot tipis yang berdiri tak jauh dari tempat aku berdiri memandangi diriku dengan tersenyum. Aku membalas senyumnya. Ia mendekat dan mengulurkan tangannya.
“Ana akhukum, Ashraf,” ia memperkenalkan diri dengan sangat sopan. Ia menggunakan kalimat ‘akhukum’ berarti ia sangat yakin aku seorang muslim seperti dirinya.
“Ana akhukum, Fahri,” jawabku.
“Min Shin?
Orang Mesir terlalu susah membedakan orang Asia Tenggara dengan orang China.
“La. Ana Andonesy.”
Kami pun lantas berbincang-bincang. Mula-mula aku memancingnya dengan masalah bola. Orang Mesir paling suka berbicara masalah bola. Terutama membicarakan persaingan tiga klub besar Mesir yaitu Ahli, Zamalek dan Ismaili. Ia ternyata pendukung Zamalek. Dengan bangga ia berkata, “Syaikh Muhammad Jibril juga pendukung setia Zamalek.” Aku hanya tersenyum. Aku tidak perlu mempertanyakan lebih lanjut kebenaran kata-katanya. Tidak penting. Pendukung fanatik sebuah klub akan mencari banyak data untuk mendukung klub kesayangannya. Maka aku langsung menyambungnya dengan memuji kehebatan beberapa pemain andalan Zamalek. Terutama Hosam Hasan. Ia tampak senang. Tujuanku memang membuat dia merasa senang. Tak lebih. Aku merasa tak rugi membaca buku-buku Syaikh Abbas As-Sisi tentang bagaimana caranya mengambil hati orang lain. Pembicaraan terus melebar ke mana-mana.

Peristiwa di dalam Metro
Usai shalat, aku menyalami Syaikh Ahmad. Nama lengkapnya Syaikh Ahmad Taqiyyuddin Abdul Majid. Imam muda yang selama ini sangat dekat denganku. Beliau tidak pernah menyembunyikan senyumnya setiap kali berjumpa denganku. Beliau masih muda, umurnya baru tiga puluh satu, dan baru setengah tahun yang lalu ia meraih Magister Sejarah Islam dari Universitas Al Azhar. Anaknya baru satu, berumur dua tahun. Kini beliau bekerja di Kementerian Urusan Wakaf sambil menempuh program doktoralnya. Beliau juga menjadi dosen Sejarah Islam di Ma’had I’dadud Du’at yang dikelola oleh Jam’iyyah Syar’iyyah bekerjasama dengan Fakultas Dakwah, Universitas Al Azhar. Di seluruh Mesir sampai sekarang ma’had ini baru ada dua: di Ramsis dan di Hadayek Helwan.
Meskipun masih muda, namun kedalaman ilmu agama dan kefashihannya membaca serta mentafsirkan Al-Qur’an membuat masyarakat memanggilnya “Syaikh”. Kerendahan hati, dan komitmennya yang tinggi membela kebenaran membuat sosoknya dicintai dan dihormati semua lapisan masyarakat Hadayek Helwan dan sekitarnya. Yang menarik, dia dekat dengan kawula muda. Panggilan ‘Syaikh’ tidak membuatnya lantas merasa canggung untuk ikut sepak bola setiap Jum’at pagi bersama anak-anak muda. Jika Maria adalah gadis Koptik yang aneh. Aku merasa Syaikh Ahmad adalah ulama muda yang unik.
“Akh18 Fahri, mau ke mana?” tanya Syaikh ramah dengan senyum menghiasi wajahnya yang bersih. Jenggotnya tertata rapi. Kutatap wajah beliau sesaat. Sejatinya Syaikh Ahmad memang tampan. Tak kalah dengan Kazem Saheer, penyanyi tenar asal Irak yang digandrungi gadis-gadis remaja seantero Timur Tengah. Nada suaranya juga indah berwibawa. Tak heran jika beliau disayangi semua orang. Seandainya suara indah Kazem Saheer digunakan untuk membaca Al-Qur’an seperti Syaikh Ahmad mungkin akan lain cerita belantika selebritis Mesir.
“Seperti biasa Syaikh, ke Shubra,” jawabku datar.
Beliau langsung paham aku mau ke mana dan mau apa. Sebab Syaikh Ahmad dulu juga belajar qiraah sab’ah pada Syaikh Utsman di Shubra. Sesekali bahkan masih datang ke sana.
“Cuacanya buruk. Sangat panas. Apa tidak sebaiknya istrirahat saja? Jarak yang akan kau tempuh itu tidak dekat. Pikirkan juga kesehatanmu, Akh,” lanjut beliau sambil meletakkan tangan kanannya dipundak kiriku.
“Semestinya memang begitu Syaikh. Tapi saya harus komitmen dengan jadwal. Jadwal adalah janji. Janji pada diri sendiri dan janji pada Syaikh Utsman untuk datang.”
“Masya Allah, semoga Allah menyertai langkahmu.”
“Amin,” sahutku pelan sambil melirik jam dinding di atas mihrab.
Waktunya sudah mepet.
“Syaikh, saya pamit dulu,” kataku sambil bangkit berdiri. Syaikh Ahmad ikut berdiri. Kucangklong tas, kupakai topi dan kaca mata.
Syaikh Ahmad tersenyum melihat penampilanku.
“Dengan topi dan kaca mata hitammu itu kau seperti bintang film Hong Kong saja. Tak tampak sedikit pun kau seorang mahasiswa pascasarjana Al Azhar yang hafal Al-Qur’an.”
“Syaikh ini bisa saja,” sahutku sambil tersenyum, “mohon doanya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumussalam warahmatullah wa barakatuh.”
Di luar masjid, terik matahari dan gelombang angin panas langsung menyerang. Cepat-cepat kuayunkan kaki, berlari-lari kecil menuju mahathah metro yang berada tiga puluh lima meter di hadapanku. Ups, sampai juga akhirnya. Aku langsung menuju loket penjualan tiket.
“Ya Kapten, wahid Shubra!” seruku pada penjaga loket berkepala botak dan gemuk. Wajahnya penuh keringat, meskipun tepat di belakangnya ada kipas angin kecil berputar-putar. Ia tampak berkenan kusapa dengan kapten. Memang untuk menyapa lelaki yang tidak dikenal cukup memakai ‘ya kapten’ bisa juga ‘ya basya’ atau kalau agak tua ‘ya ammu’. Jika kira-kira sudah haji memakai ‘ya haj’.”

Wusss!
Hembusan udara sejuk yang dipancarkan lima AC dalam masjid menyambut ramah. Alhamdulillah. Nikmat rasanya jika sudah berada di dalam masjid. Puluhan orang sudah berjajar rapi dalam shaf shalat jamaah. Kuletakkan topi dan tas cangklongku di bawah tiang dekat aku berdiri di barisan shaf kedua. Kedamaian menjalari seluruh syaraf dan gelegak jiwa begitu kuangkat takbir. Udara sejuk yang berhembus terasa mengelus-elus leher dan mukaku. Juga mengusap keringat yang tadi mengalir deras. Aku merasa tenteram dalam elusan kasih sayang Tuhan Yang Mahapenyayang. Dia terasa begitu dekat, lebih dekat dari urat leher, lebih dekat dari jantung yang berdetak.

Cinta nabi pada beliau sama dengan cinta nabi pada ayah kandungnya sendiri. Tapi masalah hidayah hanya Allah yang berhak menentukan. Nabi tidak bisa berbuat apa-apa atas nasib sang paman yang amat dicintainya itu. Juga hidayah untuk Maria. Hanya Allah yang berhak memberikannya.
Mungkin, sejak azan berkumandang Maria telah membuka daun jendela kayunya. Dari balik kaca ia melihat ke bawah, menunggu aku keluar. Begitu aku tampak keluar menuju halaman apartemen, ia membuka jendela kacanya, dan memanggil dengan suara setengah berbisik. Ia tahu persis bahwa aku dua kali tiap dalam satu minggu keluar untuk talaqqi Al-Qur’an. Tiap hari Ahad dan Rabu. Berangkat setelah azan zhuhur berkumandang dan pulang habis Ashar. Dan ini hari Rabu. Seringkali ia titip sesuatu padaku. Biasanya tidak terlalu merepotkan. Seperti titip membelikan disket, memfotocopykan sesuatu, membelikan tinta print, dan sejenisnya yang mudah kutunaikan. Banyak toko alat tulis, tempat foto copy dan toko perlengkapan komputer di Hadayek Helwan. Jika tidak ada di sana, biasanya di Shubra El-Khaima ada.
Suhu udara benar-benar panas. Wajar saja Maria malas keluar. Toko alat tulis yang juga menjual disket hanya berjarak lima puluh meter dari apartemen. Namun ia lebih memilih titip dan menunggu sampai aku pulang nanti. Ini memang puncak musim panas. Laporan cuaca meramalkan akan berlangsung sampai minggu depan, rata-rata 39 sampai 41 derajat celcius. Ini baru di Cairo. Di Mesir bagian selatan dan Sudan entah berapa suhunya. Tentu lebih menggila. Ubun-ubunku terasa mendidih.
Panggilan iqamat terdengar bersahut-sahutan. Panggilan mulia itu sangat menentramkan hati. Pintu-pintu meraih kebahagiaan dan kesejahteraan masih terbuka lebar-lebar. Kupercepat langkah. Tiga puluh meter di depan adalah Masjid Al-Fath Al-Islami. Masjid kesayangan. Masjid penuh kenangan tak terlupakan. Masjid tempat aku mencurahkan suka dan deritaku selama belajar di sini. Tempat aku menitipkan rahasia kerinduanku yang memuncak, tujuh tahun sudah aku berpisah dengan ayah ibu. Tempat aku mengadu pada Yang Maha Pemberi rizki saat berada dalam keadaan kritis kehabisan uang. Saat hutang pada teman-teman menumpuk dan belum terbayarkan. Saat uang honor terjemahan terlambat datang.
Tempat aku menata hati, merancang strategi, mempertebal azam dan keteguhan jiwa dalam perjuangan panjang.
Begitu masuk masjid...

Ia gadis yang sangat cerdas. Nilai ujian akhir Sekolah Lanjutan Atasnya adalah terbaik kedua tingkat nasional Mesir. Ia masuk Fakultas Komunikasi, Universitas Cairo. Dan tiap tingkat selalu meraih predikat mumtaz atau cumlaude. Ia selalu terbaik di fakultasnya. Ia pernah ditawari jadi reporter Ahram, koran terkemuka di Mesir. Tapi ia tolak. Ia lebih memilih jadi penulis bebas. Ia memang gadis Koptik yang aneh. Menurut pengakuannya sendiri, ia paling suka dengar suara azan, tapi pergi ke gereja tidak pernah ia tinggalkan. Sekali lagi, ia memang gadis Koptik yang aneh. Aku tidak tahu jalan pikirannya.
Selama ini, aku hanya mendengar dari bibirnya yang tipis itu hal-hal yang positif tentang Islam. Dalam hal etika berbicara dan bergaul ia terkadang lebih Islami daripada gadis-gadis Mesir yang mengaku muslimah. Jarang sekali kudengar ia tertawa cekikikan. Ia lebih suka tersenyum saja. Pakaiannya longgar, sopan dan rapat. Selalu berlengan panjang dengan bawahan panjang sampai tumit. Hanya saja, ia tidak memakai jilbab. Tapi itu jauh lebih sopan ketimbang gadis-gadis Mesir seusianya yang berpakaian ketat dan bercelana ketat, dan tidak jarang bagian perutnya sedikit terbuka. Padahal mereka banyak yang mengaku muslimah. Maria suka pada Al-Qur’an. Ia sangat mengaguminya, meskipun ia tidak pernah mengaku muslimah. Penghormatannya pada Al-Qur’an bahkan melebihi beberapa intelektual muslim.
Ia pernah cerita, suatu kali ia ikut diskusi tentang aspek kebahasaan Al-Qur’an di Fakultas Sastra Universitas Cairo. Pemakalahnya adalah seorang doktor filsafat jebolan Sorbonne Perancis. Maria merasa risih sekali dengan kepongahan doktor itu yang mengatakan Al-Qur’an tidak sakral karena dilihat dari aspek kebahasaan ada ketidakberesan. Doktor itu mencontohkan dalam Al-Qur’an ada rangkaian huruf yang tidak diketahui maknanya. Yaitu, alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, thaaha nuun, kaf ha ya ‘ain shaad, dan sejenisnya.
Maria berkata padaku,
“Fahri, aku geli sekali mendengar perkataan doktor dari Sorbonne itu. Dia itu orang Arab, juga muslim, tapi bagaimana bisa mengatakan hal yang stupid begitu. Aku saja yang Koptik bisa merasakan betapa indahnya Al-Qur’an dengan alif laam miim-nya. Kurasa rangkaian huruf-huruf seperti alif laam miim, alif laam ra, haa miim, yaa siin, nuun, kaf ha ya ‘ain shaad adalah rumus-rumus Tuhan yang dahsyat maknanya. Susah diungkapkan maknanya, tapi keagungannya bisa ditangkap oleh mereka yang memiliki cita rasa bahasa Arab yang tinggi. Jika susunan itu dianggap sebagai suatu ketidakberesan, orang-orang kafir Quraisy yang sangat tidak suka pada Al-Qur’an dan memusuhinya sejak dahulu tentu akan mengambil kesempatan adanya ketidakberesan itu untuk menghancurkan Al-Qur’an. Dan tentu mereka sudah mencela bahasa Al-Qur’an habis-habisan sepanjang sejarah. Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Mereka mengakui keindahan bahasanya yang luar biasa. Mereka menganggap bahasa Al-Qur’an bukan bahasa manusia biasa tapi bahasa yang datang dari langit. Jadi kukira doktor itu benar-benar stupid. Tidak semestinya seorang doktor sekelas dia mengatakan hal seperti itu.”
Aku lalu menjelaskan kepada Maria segala hal berkaitan dengan alim laam miim dalam Al-Qur’an. Lengkap dengan segala rahasia yang digali oleh para ulama dan ahli tafsir. Maknanya, hikmahnya, dan pengaruhnya dalam jiwa. Juga kuterangkan bahwa pendapat Maria yang mengatakan huruf-huruf itu tak lain adalah rumus-rumus Tuhan yang maha dahsyat maknanya, dan hanya Tuhan yang tahu persis maknanya, ternyata merupakan pendapat yang dicenderungi mayoritas ulama tafsir. Maria girang sekali mendengarnya.
“Wah pendapat yang terlintas begitu saja dalam benak kok bisa sama dengan pendapat mayoritas ulama tafsir ya?” komentarnya sambil tersenyum bangga.
Aku ikut tersenyum.
Di dunia ini memang banyak sekali rahasia Tuhan yang tidak bisa dimengerti oleh manusia lemah seperti diriku. Termasuk kenapa ada gadis seperti Maria. Dan aku pun tidak merasa perlu untuk bertanya padanya kenapa tidak mengikuti ajaran Al-Qur’an. Pertanyaan itu kurasa sangat tidak tepat ditujukan pada gadis cerdas seperti Maria. Dia pasti punya alasan atas pilihannya. Inilah yang membuatku menganggap Maria adalah gadis aneh dan misterius. Di dunia ini banyak sekali hal-hal misterius. Masalah hidayah dan iman adalah masalah misterius. Sebab hanya Allah saja yang berhak menentukan siapa-siapa yang patut diberi hidayah. Abu Thalib adalah paman nabi yang mati-matian membela dakwah nabi.

“Afwan.”
Aku cepat-cepat melangkah ke jalan menuju masjid untuk shalat zhuhur. Panasnya bukan main.
Gadis Mesir itu, namanya Maria. Ia juga senang dipanggil Maryam. Dua nama yang menurutnya sama saja. Dia puteri sulung Tuan Boutros Rafael Girgis. Berasal dari keluarga besar Girgis. Sebuah keluarga Kristen Koptik yang sangat taat. Bisa dikatakan, keluarga Maria adalah tetangga kami paling akrab. Ya, paling akrab. Flat atau rumah mereka berada tepat di atas flat kami. Indahnya, mereka sangat sopan dan menghormati kami mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Al Azhar.
Maria gadis yang unik.
Ia seorang Kristen Koptik atau dalam bahasa asli Mesirnya qibthi, namun ia suka pada Al-Qur’an. Ia bahkan hafal beberapa surat Al-Qur’an. Di antaranya surat Maryam. Sebuah surat yang membuat dirinya merasa bangga. Aku mengetahui hal itu pada suatu kesempatan berbincang dengannya di dalam metro. Kami tak sengaja berjumpa. Ia pulang kuliah dari Cairo University, sedangkan aku juga pulang kuliah dari Al Azhar University. Kami duduk satu bangku. Suatu kebetulan.
“Hei namamu Fahri, iya ‘kan?”
“Benar.”
“Kau pasti tahu namaku, iya ‘kan?”
“Iya. Aku tahu. Namamu Maria. Puteri Tuan Boutros Girgis.”
“Kau benar.”
“Apa bedanya Maria dengan Maryam?”
“Maria atau Maryam sama saja. Seperti David dengan Daud. Yang jelas namaku tertulis dalam kitab sucimu. Kitab yang paling banyak dibaca umat manusia di dunia sepanjang sejarah. Bahkan jadi nama sebuah surat. Surat kesembilan belas, yaitu surat Maryam. Hebat bukan?”
“Hei, bagaimana kau mengatakan Al-Qur’an adalah kitab suci paling banyak dibaca umat manusia sepanjang sejarah? Dari mana kamu tahu itu?” selidikku penuh rasa kaget dan penasaran.
“Jangan kaget kalau aku berkata begitu. Ini namanya objektif. Memang kenyataannya demikian. Charles Francis Potter mengatakan seperti itu. Bahkan jujur kukatakan, ‘Al-Qur’an jauh lebih dimuliakan dan dihargai daripada kitab suci lainnya. Ia lebih dihargai daripada Perjanjian Baru dan Perjanjian Lama. Pendeta J. Shillidy dalam bukunya The Lord Jesus in The Koran memberikan kesaksian seperti itu. Dan pada kenyataannya tak ada buku atau kitab di dunia ini yang dibaca dan dihafal oleh jutaan manusia setiap detik melebihi Al-Qur’an. Di Mesir saja ada sekitar sepuluh ribu Ma’had Al Azhar. Siswanya ratusan ribu bahkan jutaan anak. Mereka semua sedang menghafalkan Al-Qur’an. Karena mereka tak akan lulus dari Ma’had Al Azhar kecuali harus hafal Al-Qur’an. Aku saja, yang seorang Koptik suka kok menghafal Al-Qur’an. Bahasanya indah dan enak dilantunkan,” cerocosnya santai tanpa ada keraguan.
“Kau juga suka menghafal Al-Qur’an? Apa aku tidak salah dengar?” heranku.
“Ada yang aneh?”
Aku diam tidak menjawab.
“Aku hafal surat Maryam dan surat Al-Maidah di luar kepala.”
“Benarkah?”
“Kau tidak percaya? Coba kau simak baik-baik!”
Maria lalu melantunkan surat Maryam yang ia hafal. Anehnya ia terlebih dahulu membaca ta’awudz14 dan basmalah. Ia tahu adab dan tata cara membaca Al-Qur’an. Jadilah perjalanan dari Mahattah15 Anwar Sadat Tahrir sampai Tura El-Esmen kuhabiskan untuk menyimak seorang Maria membaca surat Maryam dari awal sampai akhir. Nyaris tak ada satu huruf pun yang ia lupa. Bacaannya cukup baik meskipun tidak sebaik mahasiswi Al Azhar. Dari Tura El-Esmen hingga Hadayek Helwan Maria mengajak berbincang ke mana-mana. Aku tak menghiraukan tatapan orang-orang Mesir yang heran aku akrab dengan Maria.
Itulah Maria, gadis paling aneh yang pernah kukenal. Meskipun aku sudah cukup banyak tahu tentang dirinya, baik melalui ceritanya sendiri saat tak sengaja bertemu di metro, atau melalui cerita ayahnya yang ramah. Tapi aku masih menganggapnya aneh. Bahkan misterius.

Aku melangkah ke pintu.
“Saif. Jangan lupa pesanku tadi!” kembali aku mengingatkan sebelum membuka pintu.
“Insya Allah, Mas.”
Di luar sana angin terdengar mendesau-desau. Benar kata Saiful, cuaca sebetulnya kurang baik.
Ah, kalau tidak ingat bahwa kelak akan ada hari yang lebih panas dari hari ini dan lebih gawat dari hari ini. Hari ketika manusia digiring di padang Mahsyar dengan matahari hanya satu jengkal di atas ubun-ubun kepala. Kalau tidak ingat, bahwa keberadaanku di kota seribu menara ini adalah amanat. Dan amanat akan dipertanggungjawabkan dengan pasti. Kalau tak ingat, bahwa masa muda yang sedang aku jalani ini akan dipertanyakan kelak. Kalau tak ingat, bahwa tidak semua orang diberi nikmat belajar di bumi para nabi ini. Kalau tidak ingat, bahwa aku belajar di sini dengan menjual satu-satunya sawah warisan dari kakek. Kalau tidak ingat bahwa aku dilepas dengan linangan air mata dan selaksa doa dari ibu, ayah dan sanak saudara. Kalau tak ingat bahwa jadwal adalah janji yang harus ditepati. Kalau tak ingat itu semua, shalat zhuhur di kamar saja lalu tidur nyantai menyalakan kipas dan mendengarkan lantunan lagu El-Himl El-Arabi atau El-Hubb El-Haqiqi, atau untaian shalawatnya Emad Rami dari Syiria itu, tentu rasanya nyaman sekali. Apalagi jika diselingi minum ashir10 mangga yang sudah didinginkan satu minggu di dalam kulkas atau makan buah semangka yang sudah dua hari didinginkan. Masya Allah, alangkah segarnya.
Kubuka pintu apartemen perlahan.
Wuss!
Angin sahara kembali menerpa wajahku. Aku melangkah keluar lalu menuruni tangga satu per satu. Flat kami ada di tingkat tiga. Gedung apartemen ini hanya enam tingkat dan tidak punya lift. Sampai di halaman apartemen, jilatan panas matahari seakan menembus topi hitam dan kopiah putih yang menempel di kepalaku. Seandainya tidak memakai kaca mata hitam, sinarnya yang benderang akan terasa perih menyilaukan mata.
Kulangkahkan kaki ke jalan.
“Psst..psst...Fahri! Fahri!”
Kuhentikan langkah. Telingaku menangkap ada suara memanggil-manggil namaku dari atas. Suara yang sudah kukenal. Kupicingkan mataku mencari asal suara. Di tingkat empat. Tepat di atas kamarku. Seorang gadis Mesir berwajah bersih membuka jendela kamarnya sambil tersenyum. Matanya yang bening menatapku penuh binar.
“Hei Fahri, panas-panas begini keluar, mau ke mana?”
“Shubra.”
“Talaqqi Al-Qur’an ya?”
Aku mengangguk.
“Pulangnya kapan?”
“Jam lima, insya Allah.”
“Bisa nitip?”
“Nitip apa?”
“Belikan disket. Dua. Aku malas sekali keluar.”
“Baik, insya Allah.”
Aku membalikkan badan dan melangkah.
“Fahri, istanna suwayya!11”
“Fi eh kaman?12”
Aku urung melangkah.
“Uangnya.”
“Sudah, nanti saja, gampang.”
“Syukran Fahri.”

“Sudah bawa air putih, Mas?”
Aku mengangguk.
“Saif, Rudi minta dibangunkan pukul setengah dua. Tadi malam dia lembur bikin makalah. Kelihatannya dia baru tidur jam setengah sepuluh tadi. Terus tolong nanti bilang sama dia untuk beli gula, dan minyak goreng. Hari ini dia yang piket belanja. Oh ya, hampir lupa, nanti sore yang piket masak Hamdi. Dia paling suka masak oseng-oseng wortel campur kofta9. Kebetulan wortel dan koftanya habis. Bilang sama Rudi sekalian.”
Sebagai yang dipercaya untuk jadi kepala keluarga—meskipun tanpa seorang ibu rumah tangga—aku harus jeli memperhatikan kebutuhan dan kesejahteraan anggota. Dalam flat ini kami hidup berlima; aku, Saiful, Rudi, Hamdi dan Mishbah. Kebetulan aku yang paling tua, dan paling lama di Mesir. Secara akademis aku juga yang paling tinggi. Aku tinggal menunggu pengumuman untuk menulis tesis master di Al Azhar. Yang lain masih program S.1. Saiful dan Rudi baru tingkat tiga, mau masuk tingkat empat. Sedangkan Misbah dan Hamdi sedang menunggu pengumuman kelulusan untuk memperoleh gelar Lc. atau Licence. Mereka semua telah menempuh ujian akhir tahun pada akhir Mei sampai awal Juni yang lalu. Awal-awal Agustus biasanya pengumuman keluar. Namun sampai hari ini, pengumuman belum juga keluar.
Dan hari ini, kebetulan yang ada di flat hanya tiga orang, yaitu aku, Saiful dan Rudi. Adapun Hamdi sudah dua hari ini punya kegiatan di Dokki, tepatnya di Masjid Indonesia Cairo. Ia diminta untuk memberikan pelatihan kepemimpinan pada remaja masjid yang semuanya adalah putera-puteri para pejabat KBRI. Siang ini katanya selesai, dan nanti sore dia pulang. Sedangkan Mishbah sedang berada di Rab’ah El-Adawea, Nasr City. Katanya ia harus menginap di Wisma Nusantara, di tempatnya Mas Khalid, untuk merancang draft pelatihan ekonomi Islam bersama Profesor Maulana Husein Shahata, pertengahan September depan. Masing-masing penghuni flat ini punya kesibukan. Aku sendiri yang sudah tidak aktif di organisasi manapun, juga mempunyai jadwal dan kesibukan. Membaca bahan untuk tesis, talaqqi qiraah sab’ah, menerjemah, dan diskusi intern dengan teman-teman mahasiswa Indonesia yang sedang menempuh S.2. dan S.3. di Cairo.Urusan-urusan kecil seperti belanja, memasak dan membuang sampah, jika tidak diatur dengan bijak dan baik akan menjadi masalah. Dan akan mengganggu keharmonisan. Kami berlima sudah seperti saudara kandung. Saling mencintai, mengasihi dan mengerti. Semua punya hak dan kewajiban yang sama. Tidak ada yang diistimewakan. Semboyan kami, baiti jannati. Rumahku adalah surgaku. Tempat yang kami tinggali ini harus benar-benar menjadi tempat yang menyenangkan. Dan sebagai yang paling tua aku bertanggung jawab untuk membawa mereka pada suasana yang mereka inginkan.

Kucium penuh takzim. Lalu kumasukkan ke dalam saku depan tas cangklong hijau tua. Meskipun butut, ini adalah tas bersejarah yang setia menemani diriku menuntut ilmu sejak di Madrasah Aliyah sampai saat ini, saat menempuh S.2. di universitas tertua di dunia, di delta Nil ini. Aku mengambil satu botol kecil berisi air putih di kulkas. Kumasukkan dalam plastik hitam lalu kumasukkan dalam tas. Aku selalu membiasakan diri membawa air putih jika bepergian, selain sangat berguna juga merupakan salah satu bentuk penghematan yang sangat terasa. Apalagi selama menempuh perjalanan jauh dari Hadayek Helwan sampai Shubra El-Khaima dengan metro5, tidak akan ada yang menjual minuman.
Aku sedikit ragu mau membuka pintu. Hatiku ketar-ketir. Angin sahara terdengar mendesau-desau. Keras dan kacau. Tak bisa dibayangkan betapa kacaunya di luar sana. Panas disertai gulungan debu yang berterbangan. Suasana yang jauh dari nyaman. Namun niat harus dibulatkan. Bismillah tawakkaltu ‘ala Allah6, pelan-pelan kubuka pintu apartemen. Dan...
Wuss!
Angin sahara menampar mukaku dengan kasar. Debu bergumpal-gumpal bercampur pasir menari-nari di mana-mana. Kututup kembali pintu apartemen. Rasanya aku melupakan sesuatu.
“Mas Fahri, udaranya terlalu panas. Cuacanya buruk. Apa tidak sebaiknya istirahat saja di rumah?” saran Saiful yang baru keluar dari kamar mandi. Darah yang merembes dari hidungnya telah ia bersihkan.
“Insya Allah tidak akan terjadi apa-apa. Aku sangat tidak enak pada Syaikh Utsman jika tidak datang. Beliau saja yang sudah berumur tujuh puluh lima tahun selalu datang. Tepat waktu lagi. Tak kenal cuaca panas atau dingin. Padahal rumah beliau dari masjid tak kurang dari dua kilo,” tukasku sambil bergegas masuk kamar kembali, mengambil topi dan kaca mata hitam.
“Allah yubarik fik7, Mas,” ujarnya serak. Tangan kanannya mengusapkan sapu tangan pada hidungnya. Mungkin darahnya merembes lagi.
“Wa iyyakum!8” balasku sambil memakai kaca mata hitam dan memakai topi menutupi kopiah putih yang telah menempel di kepalaku.

Dengan tekad bulat, setelah mengusir segala rasa aras-arasen aku bersiap untuk keluar. Tepat pukul dua siang aku harus sudah berada di Masjid Abu Bakar Ash-Shidiq yang terletak di Shubra El-Khaima, ujung utara Cairo, untuk talaqqi pada Syaikh Utsman Abdul Fattah. Pada ulama besar ini aku belajar qiraah sab’ah dan ushul tafsir. Beliau adalah murid Syaikh Mahmoud Khushari, ulama legendaris yang mendapat julukan Syaikhul Maqari’ Wal Huffadh Fi Mashr atau Guru Besarnya Para Pembaca dan Penghafal Al-Qur’an di Mesir.
Jadwalku mengaji pada Syaikh yang terkenal sangat disiplin itu seminggu dua kali. Setiap Ahad dan Rabu. Beliau selalu datang tepat waktu. Tak kenal kata absen. Tak kenal cuaca dan musim. Selama tidak sakit dan tidak ada uzur yang teramat penting, beliau pasti datang. Sangat tidak enak jika aku absen hanya karena alasan panasnya suhu udara. Sebab beliau tidak sembarang menerima murid untuk talaqqi qiraah sab’ah. Siapa saja yang ingin belajar qiraah sab’ah terlebih dahulu akan beliau uji hafalan Al-Qur’an tiga puluh juz dengan qiraah bebas. Boleh Imam Warasy. Boleh Imam Hafsh. Atau lainnya. Tahun ini beliau hanya menerima sepuluh orang murid. Aku termasuk sepuluh orang yang beruntung itu. Lebih beruntung lagi, beliau sangat mengenalku. Itu karena, di samping sejak tahun pertama kuliah aku sudah menyetorkan hafalan Al-Qur’an pada beliau di serambi masjid Al Azhar, juga karena di antara sepuluh orang yang terpilih itu ternyata hanya diriku seorang yang bukan orang Mesir. Aku satu-satunya orang asing, sekaligus satu-satunya yang dari Indonesia. Tak heran jika beliau meng-anakemas-kan diriku. Dan teman-teman dari Mesir tidak ada yang merasa iri dalam masalah ini. Mereka semua simpati padaku. Itulah sebabnya, jika aku absen pasti akan langsung ditelpon oleh Syaikh Utsman dan teman-teman. Mereka akan bertanya kenapa tidak datang? Apa sakit? Apa ada halangan dan lain sebagainya. Maka aku harus tetap berusaha datang selama masih mampu menempuh perjalanan sampai ke Shubra, meskipun panas membara dan badai debu bergulung-gulung di luar sana. Meskipun jarak yang ditempuh sekitar lima puluh kilo meter lebih jauhnya.
Kuambil mushaf tercinta.

Gadis Mesir Itu Bernama Maria
Tengah hari ini, kota Cairo seakan membara. Matahari berpijar di tengah petala langit. Seumpama lidah api yang menjulur dan menjilat-jilat bumi. Tanah dan pasir menguapkan bau neraka. Hembusan angin sahara disertai debu yang bergulung-gulung menambah panas udara semakin tinggi dari detik ke detik. Penduduknya, banyak yang berlindung dalam flat yang ada dalam apartemen-apartemen berbentuk kubus dengan pintu, jendela dan tirai tertutup rapat.
Memang, istirahat di dalam flat sambil menghidupkan pendingin ruangan jauh lebih nyaman daripada berjalan ke luar rumah, meski sekadar untuk shalat berjamaah di masjid. Panggilan azan zhuhur dari ribuan menara yang bertebaran di seantero kota hanya mampu menggugah dan menggerakkan hati mereka yang benar-benar tebal imannya. Mereka yang memiliki tekad beribadah sesempurna mungkin dalam segala musim dan cuaca, seperti karang yang tegak berdiri dalam deburan ombak, terpaan badai, dan sengatan matahari. Ia tetap teguh berdiri seperti yang dititahkan Tuhan sambil bertasbih tak kenal kesah. Atau, seperti matahari yang telah jutaan tahun membakar tubuhnya untuk memberikan penerangan ke bumi dan seantero mayapada. Ia tiada pernah mengeluh, tiada pernah mengerang sedetik pun menjalankan titah Tuhan.
Awal-awal Agustus memang puncak musim panas.
Dalam kondisi sangat tidak nyaman seperti ini, aku sendiri sebenarnya sangat malas keluar. Ramalan cuaca mengumumkan: empat puluh satu derajat celcius! Apa tidak gila!? Mahasiswa Asia Tenggara yang tidak tahan panas, biasanya sudah mimisan, hidungnya mengeluarkan darah. Teman satu flat yang langganan mimisan di puncak musim panas adalah Saiful. Tiga hari ini, memasuki pukul sebelas siang sampai pukul tujuh petang, darah selalu merembes dari hidungnya. Padahal ia tidak keluar flat sama sekali. Ia hanya diam di dalam kamarnya sambil terus menyalakan kipas angin. Sesekali ia kungkum, mendinginkan badan di kamar mandi.

“Nina ! We need to talk !”
Jefri mengetuk pintu bilik mandi berkali-kali. Dia betul-betul mengharapkan kemaafan daripada Nina.
“Maafkanlah Jeffn, Nina ! Jeff tahu Jeff bersalah ,”
Ucap Jerfri lagi.
Berkali-kali dia mencuba tetapi Nina tetap mendiamkan diri. Jiwanya resah tidak terhingga. Berhari-hari dia membendung perasaan sebegitu. Dia sungguh terseksa apabila menatap wajah sayu Nina tanpa dapat meluahkan perasaan yang terbuku di hati.
Setelah penat menunggu dan merayu akhirnya Jefri terpaksa akur. Dia meninggalkan kamar Nina dengan hati berbekal semangat. Dia akan mencuba lagi. Perjuangannya belum berakhir. Dia tidak mungkin mengaku kalah. Hati Nina yang keras itu pasti dapat dilenturkannya jua suatu hari nanti.

“Nina… berikan jeff peluang ,” ucap Jefri sepenuh hati. Dia ikhlas.
“kau tak harus berterusan melarikan diri. Kitaperlu berbincang ,” sambung Jefri lagi.
Tersentak Nina. Debaran di dada semakin kencang. Pilu dihatinya juga mulai kembali mengigit. Jefri mahu berbincang dan memberikan kata putus ? Jefri mahu memberitahu bahawa tai pertunangan mereka harus diputuskan ? tidak…..
“Tidak….” Jeritan batin diluahkannya dengan perasaan penuh sebak. Semua itu tidak mungkin terjadi di dalam hidupnya. Kenapa Jefri memilih jalan itu ? Tidak mungkin ! tetapi Nina terpaksa akur jua. Seandainya perpisahan tetap tidak dapat dielakkan , dia sendiri akan membuat keputusan. Dia yang akan memutuskan pertunangan itu , bukan Jefri. Dia tidak akan ditinggalkan tetapi dia akan meniggalkan Jefri !
“ Perkara ini tak boleh berlanjutan Nina. Please try to understand me….” Sambung Jefri lagi dengan wajah kesal.
“Maaf , Nina nak cepat. Nina ada kerja ,” balas Nina pantas. Dia segera melarikan diri ke kamar mandi. Air matanya menitis lagi.
Sejak kepulangan Jefri , dia tidak henti-henti menagis. Hatinya merana kerana perbuatan Jefri. Kawan-kawan pula asyik bertanya dan mengusik tentang rancangan perkahwinan mereka. Semua itu membuatkan sakit hatinya semakin menjadi-jadi. Dia pasti mendapat malu besar sekiranya kisah Jefri meninggalkannya kerana perempuan lain diketahui ramai. Sesungguhnya dia tidak rela dirinya menjadi buah mulut orang. Tetapi Jefri , nampaknya tidak sabar-sabar lagi mahu memutuskan pertunangan mereka.

“Oh !” Nur Ayu menjerit geram. Tiba-tiba sahaja tanpa sepatah kata dia terus meninggalkan Jefri dan rumah itu. Jefri tahu gadis itu pasti akan kembali memujuk rayu seperti biasa. Tetapi kali ini Jefri bertekad tidak lagi memberi peluang kepada Nura Ayu. Semua itu harus diakhiri segera.
Dia tidak harus berlembut dan membiarkan masa depannya hancur kerana Nur Ayu. Nina tetap segala-galanya. Dia perlu berhadapan dengan Nina untuk menjernihkan keadaan. Walau bagaimana sekalipun dia dan Nina tidak mungkin berpisah. Sumpah . Jefri sedar , dia perlu bertindak sekarang , pada saat ketiadaan orang tuanya. Nina rela dimarahi.
Dihadapan pintu kamar Nina , Jefri berdiri dengan hati yang berdebar. Setelah apa yang terjadi , dengan sekali Nina tidak akan memaafkannya dengan mudah. Dia sanggup melakukan apa sahaja untuk memenangi ahti Nina kembali. Perang dingin itu tidak boleh diteruskan buat selama-lamanya. Mereka berdua pasti merana.
Pintu diketuk berkali-kali tetapi tetap tidak berjawab. Jefri menolak daun pintu yang tidak bekunci itu. Dia melangakah masuk. Baru sahaja bibirnya bergerak untuk memanggil nama Nina , gadis itu tiba-tiba sahaja muncul dihadapannya dengan tubuh yang hanya berbalut tuala merah singkat ke paras peha. Tangannya sibuk mengosok-gosokan sehelai tuala kecil ke rambutnya yang panjang mengurai. Nina sungguh ayu….
“jefri !”
Terkejut Nina apabila menyedari kehadiran Jefri di kamar itu. Jefri memerhatiakannya tekun sekali. Apa yang Jefri mahu ?
“I’m sorry. Jeff ketuk pintu tapi…. Nina , kita perlu berbincang.”
Jefri mula menggelabah. Dia berasa serba tidak kena apabila menghadapi Nina dalam keadaan begitu. Wajah Nina kini merah menyala mencerminkan hatinya yang sedang marah. Sesaat lagi dia pasti dihalau keluar.

“Who’s that ?” Soal Nur Ayu dengan perasaan curiga. Matanya mengekori langkah gemlai gadis jelita yang kini sedang memanjat anak-anak tangga. Hatinya tiba-tiba sahaja digigit rasa cemburu. Apatah lagi apabila mata Jefri tidak lepas-lepas dari merenung gadis itu.
“Nina ,” balas Jefri. Dia dapat merasakan bahang api kemarahan dan rasa cemburu yang meluap-luap daripada kedua-dua belah pihak. Htinya tiba-tiba sahaja gembira. Dia ada harapan seandainya rasa cemburu masih ada di hati Nina.
“Nina ? Kenapa you pandang dia begitu ?” Suara Nur Ayu mula meninggi , keanak-anakan. Air mukanya mula berubah kelat.
“Kau sukakan dia ? kau memang sukakan dia !” Tuduh Nur Ayu. Merajuk.
Jefri mengeluh. Nur Ayu sememangnya sering bersikap begitu. Walaupun tidak berhak , pergerakan Jefri tetap mahu dikawal. Cemburunya sentiasa melebihi. Dia obsess.
“ Kau kan tahu aku dah bertunang ,” balas Jefri.
Selama ini Nur Ayu memang berusaha keras untuk mendekati diri dengan Jefri , sehingga Jefri akhirnya tidak mampu menepis lagi. Walaupun mengetahui bahawa dia sudah pun bertunang , Nur Ayu tetap mengambil sikap tidak kisah. Selagi belum berkahwin katanya , Jefri tetap tidak berpunya dan peluang untuknya masih ada.
“Dia ? Your fiancĂ©e ?” Mata Nur Ayu terbuka luas. Terkejut. Melihat kejelitaan Nina , kedudukkannya terasa goyah. Dia tidak menyangka gadis Melayu tulen mampu menandingi kecantikan wajah pan Asiannya. Tetapi kecantikan Nina amat menyerlah.

Jefri diam lalu menyandar lesu pada meja piano , Tanpa senyuman Nina , dia rasa seperti tidak berdaya. Semanis mana pun senyuman gadis di hadapannya itu , dia bukannya Nina. Hanya Nina seorang sahaja yang dapat mengembalikan kebahagiaan ke dalam hidupnya.
“Janji…!” Pinta Nur Ayu lagi. Manja.
“Janji ,” balas Jefri akhirnya.
“By the way , apa nama lagu itu ? So romantic.”
“Ballade pour Adeline ,” balas Jefri perlahan. Dia terkenangkan saat-saat manisnya bersama Nina. Segala-galanya sungguh indah tetapi itu sudah lama berlalu. Keadaan telah berubah. Nina sudah berubah. Bau dia sedar betapa dia merindui kehadiran Nina dalm hidupnya. Malangnya walaupun sudah seminggu berlalu , mereka jarang bertemu. Perubahan mereka pula amat singkat , tegang dan ganjil. Tidak lagi semesra dahulu. Nina seperti sengaja menjauhkan diri.
Suasana di rumah itu tidak lagi sebahagia dahulu. Sia bersalah. Bersalah terhadap Nina serta ibu bapanya. Perkataan esal telah pun beratus kali terlepas dari bibirnya. Dia telah berjanji akan memperbetulkan keadaan. Hubungannya dnga Nur Ayuseharusnya berakhir. Nina adlah miliknya. Sesungguhnya dia tidak boleh kehilangan Nina.
Nina mengatur langkah kea rah anak tangga menuju ke tingkat atas tanpa menghiraukan sesiapa pun , tidak Jefri dan tidak juga tetamu mereka itu. Nina terus berlalu begitu sahaja dengan wajah tegang. Marah ? Jefri menghela nafas resah.
Dia akui kesilapannya kerana membenarkan Nur Ayu mengunjunginya di rumah itu. Tetapi keinginan gadis itu bukannya mudah ditolak. Nur Ayu terlalu manja dan keras kepala. Anak kesayangan hartawan yang memiliki segala-galanya itu tidak pernah rela menghadapi kegagalan. Jefri sedar dirinya bagaikan sebuah piala yang hars dimiliki oleh gadis itu.

Peasaan nina tiba-tiba sahaja dibuai rasa riang tatkala telinganya menangkap bunyi petikan piano yang membawakan lagu kegemaraannya Ballade Pour Adeline. Dia tercengang dan terpacak di pintu pagar agak lama. Itu adalah lagu kenangannya dengan Jefri. Selain daripada memandu kereta lumba , bermain piano juga merupakan hobi Jefri.
Kini Jefri sedang mamainkan lagu yang sentiasa dimainkan untuknya suatu ketika dahulu. Jefri masih ingat? Hatinya melonjak gembira. Seakan-akan terpukau oleh suara alunan muzik yang pastinya dimainkan oleh Jefri demi mengingati kenangan indah mereka berdua. Nina melangkah perlahan melewati barisan pohon-pohon orkid di halaman. Dia sepatutnya mengiringi Jefri dengan petikan gitar. Ia satu kombinasi yang baik.
Tetapi mimpinya berkecai sebaik sahaja mendengar suara tawa riang perempuan diikuti dengan bunyi tepukan tangan dari ruang tamu. Suara piano pun mula menghilang. Hati Nina mulai dihambat resah. Dia meneruskan langkah dan sesaat kemudian matanya singgah pada Jefri dan teman wanitanya yang kelihatan begitu mesra. Senario ayng cukup menyakitkan mata dan hati.
“Bravo ! You sungguh hebat , Jefri ! Janji , yang itu bukannya kali terakhir. You akan mainkan lagi untuk I !” Rengek Nur Ayu.

TETAPI DARI JAUH NINA MELIHAT JEFRI SEDANGMENGORAK LANGKAH BERGANDINGAN TANGAN DENGAN SEORANG GADIS JELITA MENUJU KE ARAH IBU BAPANYA . KEDUA-DUANYA KELIHATAN MESRA SEKALI , DENGAN SENYUMAN YANG TERUKIR DI BIBIR MASING-MASING SERTA SENTUHAN MESRA YANG JELAS SEKALI MENUNJUKKAN BETAPA RAPATNYA PERHUBUNGAN MEREKA .
HATI NINA BAGIKAN LURUH , TERKEJUT . LEMAH SEGALA SENDINYA . SIA TERUS BERDIRI DI TEMPATNYA TANPA BERGERAK-GERAK LAGI . PERASAANNYA DISERANG RASA GUNDAH , RAGU-RAGU DAN KELIRU APABILA MELIHAT KEMESRAAN JEFRI DAN GADIS ITU . HATINYA SAKIT . APAKAH YANG SEDANG BERLAKU? KENAPAKAH JEFRI , TUNANGNYA BEGITU MESRA DENGAN GADIS ITU? SIAPAKAH GADIS TERSEBUT?
SEMAKIN SIPERHATIKAN , HATINYA TERASA SEMAKIN PILU . TANPA DISEDARI AIR MATANYA JATUH MENITIS . NINA TIDAK DAPAT LAGI MENAHAN RASA SEDIH DI HATI , LANTAS MENGORAK LANGKAH MENINGGILKAN LAPANGAN TERBANG ITU . TERNYATA JEFRI TIDAK MENDAMBAKAN KEHADIRANNYA DI SITU . TERASA DIRINYA TIDAK DIPERLUKAN LAGI KERANA JEFRI SUDAH PUN MEMPUNYAI PENGGANTI , GADIS KACUKAN AYNG CANTIK JELITA .
DUA JAM KEMUDIAN APABILA NINA MELANGKAHKAN KAKI KE RUANG TAMU , KEHADIRANNYA TERUS DISAMBUT OLEH DUA PASANG MATA JEFRI DAN IBUNYA . PUAN ZAITON SEGERA MENDAPATKAN NINA DENGAN WAJAH RESAH . SEDANGKAN JEFRI HANYA MEMBANTU DI TEMPATNYA . MATANYA MEMANDANG TEPAT KE WAJAH NINA .
“ NINA… KAU KE MANA? JEFRI DAH LAMA SAMPAI NI ?” TEGUR PUAN ZAITON . “ NINA TERPAKSA SIAPKAN KERJA . MAAFKAN NINA ,” BALAS NINA PERAHAN SAMBIL , MERENUNG WAJAH KEIBUAN MAK LONGNYA YANG KINI PENUH DENGAN RIAK KEBIMBANGAN . AKHIRNYA DIA BERPALING KEPADA JEFRI . MATANYA MERENUNG LAMA WAJAH TAMPAN ITU. WAJAH ITU BETUL-BETUL TELAH MELUKAKAN PERASAANNYA . HATINYA RASA TERSIAT DENGAN PERBUATAN JEFRI YANG TELAH MENDUAKANNYA . DIA BETUL-BETUL BENCI . SAMPAI HATI JEFRI MEMPERSIAKAN PENANTIAN SERTA HARAPANNYA SELAMA INI.
“ SEORANG SAJA ? ORANG YANG BARU PULANG DARI LUAR NEGARA BIASANYA PULANG BERDUA .” SINDIR NINA TATKALA BERHADAPAN DENGAN JEFRI .
DIA SENYUM WALAUPUN HATI DI DALAM TERASA SEBAK . DIA MAHU MENANGIS TETAPI TERPAKSA DITAHAN . WALAUPUN JEFRI TELAH MELUKAKAN PERASAANNYA , DIA TIDAK SEMESTINYA AKUR , MENANGIS HIBA ATAU MEMUJUK RAYU AGAR JEFRI MENYESALI PERBUATANNYA . DIA TIDAK AKAN BERBUAT BEGITU . SEKIRANYA JEFRI BOLEH MELUPAKAN PERCINTAAN MEREKA YANG BERUSIA HAMPIR ENAM TAHUN ITU DENGAN BEGITU SEKALI , KENAPA TIDAK NINA . WALAUPUN SUKAR , DIA BOLEH MEMCUBA . KALAU MASIH TIDAK MAMPU , DIA BOLEH BERLAKON . BERPURA-PURA BAHAWA APA YANG JEFRI LAKUKAN TIDAK SEDIKIT PUN MEMBERI KESAN KEPADANYA . BIARLAH , WALAUPUN DIA TERPAKSA SENYUM DI LUAR DAN MENANGIS DI DALAM .

SATU MINGGU BAGI NINA TIDAK UBAH BAGIKAN SATU TAHUN LAMANYA. HATINYA SUDAH TIDAK SABAR-SABAR LAGI . SEMEMANGNYA SALAMA EMPAT TAHUN ITU JIWANYA TIDAK PERNAH TENTERAM . JARAK BERIBU BATU YANG MEMISAHKAN MEREKA MEMBUATKAN HATINYA TIDAK SENANG . DIA TIDAK SANGGUP BERPISAH . HATINYA BERTAMBAH RESAH APABILA JEFRI MULA SIBUK DENGAN PELAJARANNYA DAN JARANG MENGUTUS SURAT KEPADANYA . SEMUA ITU MEMBUATKAN DIA TIDAK DAPAT MENUMPUKAN PERHATIAN TERHADAP BIDANG PEMASARAN SERTA PENGIKLANAN YANG SEDANG DIIKUTINYA DAN JUGA TERHADAP TUGAS SAMBILANNYA SEBAGAI MODEL IKLAN UNTUK SEBUAH SYARIKAT YANG BERPUSAT DI KUALA LUMPUR .
NAMUN BEGITU , DIA TERUS MENUNGGU WALAU MEMAKAN MASA YANG LAMA . DIA SEHARUSNYA BERSABAR DAN MENANAMKANSEGENAP KEPECAYAAN TERHADAP KETULUSAN CINTA JEFRI . ITU SEMUA ADALAH UNTUK KEPENTINGAN MASA DEPAN MEREKA SEKELUARGA .
HARI DAN SAAT-SAAT YANG DITUNGGU AKHIRNYA TIBA JUA . TIDAK DAPAT DIBAYANGKAN BETAPA GIRANGNYA PERASAAN NINA HARI ITU. SEBAIK SAHAJA SELESAI MENJALANI PENGGAMBARAN IKLAN TENGAH HARI ITU, DIA TERUS KE LAPANGAN TERBANG SENAI UNTUK MENYAMBUT KEPULANGAN ORANG YANG DICINTAINYA .
MANUSIA PENUH SESAK . MASING-MASING SEDANG MENUNGGU KETIBAAN AHLI KELUARGA SETA ORANG YANG DISAYANGI DENGAN PENUH HARAPAN . FIKIRAN NINA HANYA TERTUMPU KEPADA JEFRI . MATANYA MENGAMATI SEKELILING . DIA TIDAK MAHU KETINGGALAN UNTUK MENYAMBUT KEPULANGAN TUNANGNYA ITU . BAPA DAN EMAK SAUDARANYA SRTA AHLI KELUARGA YANG LAIN SUDAH PUN BERANGKAT LEBIH AWAL .

SUDAH TERLALU LAMA MEREKA TIDAK BERSUA IAITU SEJAK KEPULANGAN JEFRI DUA TAHUN LALU . KINI , RASANYA SEPERTI SERATUS TAHUN . DIA AMAT RINDU UNTUK BERSAMA JEFRI SEPERTI DI ZAMAN PERSEKOLAHAN MEREKA DAHULU . MEREKA BAGAIKAN SEPASANG BELANGKAS . DI MANA ADA JEFRI , DI SITU ADA NINA . RAKAN-RAKAN SEKOLAH SEMUA TAHU TENTANG PERHUBUNGAN RAPAT MEREKA YANG BUKAN LAGI SEKADAR HUBUNGAN DI ANTARA SEPUPU .
“OH… TERIMA KASIH PAK LONG!” NINA MENJERIT RIANG . BAPA SAUDARA YANG MEMAHAMI PERASAANNYA ITU TERSENYUM LEBAR .
“SAMA-SAMALAH KITA MENYAMBUT KEPULANGANNYA NATI , NINA . PAK LONG AKAN SEGERA MENIKAHKAN KAMU BERDUA ,” UJAR TUAN HAJI MOHAMMAD LALU MELANGKAH PERGI DENGAN SENYUMAN YANG MASIH TERSEMAT DI BIBIR .
NINA PULA SEGERA BERLARI-LARI KECIL MENDAPATKAN EMAK SAUDARANYA YANG SEDANG SIBUK MENGHIDANGKAN MAKANAN TENGAH HARI . DIA MAHU MENYAMPAIKAN BERITA GEMBIRA YANG SERING DINANTI-NANTIKAN OLEH MAK LONGNYA ITU . SEJAK JEFRI BERANGKAT MENINGGALKAN TANAH AIR EMPAT TAHUN YANG LALU , PUAN ZAITON TIDAK HABIS-HABIS MENYEBUT DAN BERCERITA TENTANG ANAK BONGSUNYA ITU . SEPERTI NINA JUGA , PUAN ZAITONTELAH MENANGGUNG RINDU SELAMA BETAHUN-TAHUN .

Newer Posts Older Posts Home